Minggu lalu rekan dari Jogja datang ke kota saya tinggal. Setelah menghidangkan ubi dan pisang rebus kami mengobrol tentang banyak hal. Tetapi yang paling dominan adalah soal rencana ke depan untuk pengembangan karirnya.

Tiba kemudian pada satu topik, kampusnya. Dimana para dosen menghabiskan energi untuk bertengkar memperebutkan kekuasaan. "Kayaknya itu terjadi di banyak kampus Mas" saya manimpalinya, menghibur.

Dia mengatakan bahwa kampusnya yang kecil telah menjadi arena tempur yang paling sengit sepanjang sejarah. Dia mengetahui itu setelah berdiskusi dengan banyak dosen senior lainnya yang belum pikun.

"Bayangkan sekarang kalau ada masalah di antara mereka aparat penegak hukum yang menjadi wasitnya" ucapnya. Saya kemudian memperbaiki posisi duduk. 

Banyak persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan tapi harus melibatkan pihak di luaran sana. 

Saya duduk mendekat dan menatap matanya "serius itu? Terus apa gunanya grup wa keluarga besar". 

Kami kemudian tertawa.

Memang harus diakui jika banyak orang mengklaim memiliki keluarga, legitimasinya dengan membuat grup keluarga besar. Tapi banyak yang menyelesaikan persoalan tidak secara kekeluargaan. Ini menjadi permasalahan paling rumit.

Pertikaian itu menurut saya akan menjadi warisan paling menakutkan bagi generasi selanjutnya. Kepemimpinan yang akan datang dibayang-bayangi kekakuan aturan yang mencegahnya berpikir dan bertindak kreatif dalam mengelola kampus.

Alasannya, takut dipersoalkan secara hukum oleh lawan politik.